Hari Ketiga Saat Delegates Berjuang Menyelesaikan Draft Resolution dan Menemukan Suara Mereka

Hari ketiga Papua MUN Sorong 2025 dimulai dengan suasana yang berbeda. Dari wajah-wajah para delegates, terlihat campuran antara lelah dan semangat yang semakin membara. Tiga hari belajar, berdebat, berdiskusi, dan bekerja sama membuat mereka tumbuh perlahan tapi pasti untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka.

Sejak pagi, ruang sidang kembali dipenuhi. Committee session berlanjut dan hari ini menjadi penentuan untuk para peserta harus menyelesaikan draft resolution, sebuah dokumen yang merangkum solusi mereka terhadap isu yang dibahas.

Meski ini hari terakhir, justru antusiasme peserta semakin tinggi. Saat BoD (Board of Directors) membuka forum, puluhan tangan langsung terangkat. Delegates masuk ke sesi debat dengan penuh strategi. Ada yang memimpin diskusi, ada yang menawarkan solusi, ada yang menyeimbangkan perbedaan pendapat.

Yang menarik, peserta yang di hari pertama masih ragu-ragu, kini sudah tampil percaya diri. Mereka menulis clauses, menyampaikan argumen, dan saling membangun satu sama lain untuk menyelesaikan resolusi yang solid.

Suasana ruang sidang berubah menjadi tempat yang sangat hidup, ada kelompok kecil yang sibuk berdiskusi, ada yang mengetik resolusi bersama, ada yang meyakinkan koalisi lain agar mendukung usulan mereka. Papua MUN memberi ruang bagi mereka untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi diplomat muda yang harus bernegosiasi dan mencari titik temu.

Di balik keseriusan, ada banyak momen humanis. Tawa kecil ketika debat terlalu panas, dukungan saat ada peserta gugup, hingga tepuk tangan spontan ketika seorang delegate berani tampil walaupun baru pertama kali ikut MUN.

Bagi banyak peserta, pengalaman Papua MUN bukan hanya tentang menyelesaikan dokumen. Ini tentang keberanian, tentang percaya diri dan tentang menemukan suara mereka.

Melalui proses ini, para delegates belajar bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada pemimpin yang ada hari ini, tetapi juga pada generasi muda yang sedang dipersiapkan.

Mereka memahami bahwa Sorong, Papua Barat Daya, dan Tanah Papua membutuhkan pemuda yang berani menyampaikan ide, mampu berpikir kritis, siap bekerja sama lintas daerah dan latar belakang, serta punya kapasitas untuk membawa daerahnya menuju masa depan yang lebih baik, dan Papua MUN Sorong 2025 menjadi tempat di mana hal itu mulai terbentuk.

Saat draft resolution akhirnya selesai, tepuk tangan memenuhi ruangan. Bukan hanya karena dokumen itu rampung, tetapi karena para peserta berhasil melewati proses panjang yang menguji kesabaran, kecerdasan, dan kemampuan bekerja tim.

Bagi para delegates, hari ketiga bukan akhir dari kegiatan, tapi ini adalah awal dari perjalanan panjang mereka sebagai pemimpin muda Papua.

Mereka pulang membawa lebih dari sekadar sertifikat, namun mereka membawa keyakinan bahwa mereka bisa berperan bagi Kabupaten Sorong, bagi Papua Barat Daya, dan bagi Indonesia.

Kontak Kami Whatsapp