Jayapura, Papua – Pada ada 10–11 Juli 2026, perempuan Papua dari berbagai latar belakang profesi dan pengalaman hidup berkumpul di Hotel Grand Abe dalam kegiatan Catatan Pengalaman Perempuan di Jayapura (#KitongBakuTau) yang diinisiasi oleh Agusthina Hanna Wamebu, Co-Founder Sa Perempuan Papua. Acara ini dapat terlaksana berkat dukungan Australia Awards melalui Australian Alumni Grants (AAG).
Sebagai salah satu peserta, Machaema Foundation berkesempatan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini selama dua hari. Pertemuan ini menghadirkan berbagai percakapan yang memperkaya perspektif tentang pengalaman hidup perempuan Papua. Kegiatan ini menjadi ruang aman bagi perempuan Papua untuk saling mengenal, berbagi cerita, dan merefleksikan pengalaman mereka sebagai perempuan Papua. Bagi Sa Perempuan Papua, kegiatan ini berangkat dari pengalaman panjang mendampingi perempuan melalui ruang aman dan ruang belajar bersama. Komunitas Sa Perempuan Papua selama ini berfokus pada isu kesehatan reproduksi, kekerasan seksual, dan kesehatan mental. Melalui ruang aman daring bernama Ko Pu Ruang Aman Digital, mereka menerima banyak cerita dari para penyintas mengenai pengalaman kekerasan, diskriminasi, serta berbagai tantangan yang dihadapi perempuan Papua. Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk menulis dan membagikan pengalaman tantangan, dan harapan mereka bukan untuk mewakili seluruh perempuan Papua, melainkan sebagai upaya menghadirkan catatan-catatan pengalaman yang otentik dan berangkat dari kehidupan sehari-hari.
“Seringkali ketika kita berbicara atau bahkan membangun argumen, referensi yang kita gunakan berasal dari luar. Padahal, kita memiliki pengalaman dan pengetahuan kita sendiri sebagai perempuan Papua yang juga penting untuk didokumentasikan,” ujar Agusthina Hanna Wamebu.
Selama dua hari pelaksanaan kegiatan, para peserta menunjukkan keberanian untuk hadir secara utuh dan berbagi cerita-cerita personal yang tidak selalu mudah untuk diungkapkan. Bagi Hanna, kesediaan para peserta untuk menjadi rentan (vulnerable) dan terbuka merupakan salah satu kekuatan terbesar yang muncul dari pertemuan ini.
“Saya melihat harapan, talenta-talenta, dan kemauan untuk bersolidaritas. Mereka datang dengan berbagai tantangan yang dimiliki, tetapi tetap mau bersama-sama saling mendukung dan menghadapi hambatan-hambatan itu,” ujarnya.
“Kita bicara data, angka partisipasi kerja perempuan, akses terhadap pendidikan, dan pelayanan kesehatan yang masih rendah. Karena itu, pemberdayaan perempuan menjadi penting untuk membuka akses dan kesempatan yang dapat meningkatkan taraf hidup perempuan,” jelasnya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk merefleksikan berbagai stigma yang masih dilekatkan kepada perempuan Papua, seperti anggapan bahwa perempuan Papua kasar, malas, atau tidak mampu. Menurut Hanna, stigma-stigma tersebut tidak mencerminkan kenyataan dan dapat dipatahkan melalui karya serta pencapaian perempuan Papua sendiri.
“Kita melawan stigma itu dengan karya. Kita tunjukan bahwa kita berpendidikan, berdaya, mengakui identitas kita, dan mendukung perempuan Papua lainnya,” katanya.
Di akhir kegiatan, Hanna menyampaikan harapannya bagi perempuan Papua, terutama generasi muda, agar bangga dengan identitas yang dimiliki, baik identitas fisik maupun identitas kultural.
“Banggalah dengan rambutmu, warna kulitmu, postur tubuhmu, dan semua yang ada pada dirimu sebagai perempuan Papua. Tetapi juga banggalah dengan identitas budaya yang kita miliki. Saya percaya identitas Papua mengajarkan kita tentang kebersamaan dan bagaimana merangkul orang lain. Kita memiliki sense of community yang tinggi, dan itu adalah karakter seorang pemimpin. Kita punya potensi yang besar untuk menjadi pemimpin karena kita datang dari budaya yang menjunjung kebersamaan,” tutupnya.
Kehadiran Machaema sebagai Community Partner dalam kegiatan Catatan Pengalaman Perempuan di Jayapura (#KitongBakuTau) untuk mendukung kegiatan ini sebagai ruang yang menghadirkan perspektif autentik tentang perempuan Papua melalui cerita dan pengalaman yang mereka bagikan sendiri. Pendekatan ini sejalan dengan komitmen Machaema dalam mendorong pendidikan, literasi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas, sekaligus memperkuat kolaborasi yang berdampak. Melalui kemitraan ini, Machaema berharap semakin banyak suara perempuan Papua dapat didengar, didokumentasikan, dan menjadi inspirasi bagi lahirnya ruang-ruang belajar, solidaritas, serta kolaborasi yang lebih luas di Papua.
Search here